PENTIIIING ! ! ! NIH AKIBAT TIDAK MENUNTUT ILMU AGAMA

Akibat Tidak Menuntut Ilmu Agama: Mengapa Beramal Tanpa Ilmu Bisa Berbahaya?
"Sungguh, ada sekumpulan orang yang meninggalkan ilmu dan memilih mengambil tempat di mihrab. Lalu mereka mengerjakan ibadah shalat dan puasa tanpa ilmu. Demi Allah, tidaklah seseorang beramal tanpa ilmu, melainkan kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada kebaikannya."
— Muhammad bin Sirin rahimahullah
(Latha'iful Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali hal. 125)
Banyak orang bersemangat dalam beribadah, namun terkadang melupakan satu fondasi paling penting: ilmu. Mengabaikan kewajiban menuntut ilmu agama ternyata bukan sekadar kehilangan wawasan, tetapi bisa membawa dampak negatif yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Sebagaimana dijelaskan oleh para asatidz Ahlussunnah mengenai wajibnya menuntut ilmu syar'i, Rasulullah ﷺ telah menyampaikan dalam sebuah hadits shahih bahwa menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim."
(HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Dalam hadits lain juga dijelaskan tentang keutamaan menuntut ilmu agama:
1. Dimudahkan Jalannya Menuju Surga
Ini adalah salah satu keutamaan paling besar. Allah memberikan "jalur khusus" menuju surga bagi mereka yang bersusah payah belajar agama. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim No. 2699)
2. Tanda Allah Menginginkan Kebaikan untuk Hamba-Nya
Jika seseorang tiba-tiba memiliki semangat untuk belajar agama dan memahaminya, itu adalah pertanda baik bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan (dunia dan akhirat) baginya. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agamanya."
(HR. Bukhari No. 71 & Muslim No. 1037)
3. Ahli Ilmu Lebih Utama daripada Ahli Ibadah (Tanpa Ilmu)
Ini sangat berkaitan dengan ungkapan Muhammad bin Sirin di awal artikel. Beribadah dengan ilmu jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada sekadar memperbanyak ibadah namun tanpa dasar ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
"Dan keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang."
(HR. Abu Dawud No. 3641 & Tirmidzi No. 2682)
4. Menjadi Pewaris Para Nabi
Harta warisan paling berharga di dunia ini bukanlah emas atau uang, melainkan ilmu agama. Lanjutan dari hadits di atas, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak."
(HR. Abu Dawud No. 3641, dishahihkan oleh Al-Albani)
Adapun apabila seseorang tidak menuntut ilmu agama, hal tersebut akan memunculkan beberapa akibat atau dampak yang sangat nyata, baik dari sisi pribadi, sosial, maupun spiritual.
1. Dampak pada Diri Sendiri (Akibat Pribadi)
Tanpa bekal ilmu yang cukup, seseorang akan rentan tersesat dalam prinsip dan praktik kehidupannya sehari-hari:
- Krisis Pemahaman Agama: Membuat seseorang kehilangan arah tentang esensi ajaran agama dan nilai-nilai spiritual yang luhur. Apabila seseorang tidak memiliki pemahaman tauhid yang lurus, ia akan mudah terjerumus oleh godaan setan. Misalnya, secara lahiriah ia menunaikan shalat, tetapi masih melakukan praktik perdukunan/kesyirikan. Atau ia shalat sekadar ikut-ikutan tanpa mengetahui esensi tujuannya.
- Kesalahan Fatal dalam Ibadah: Niat yang baik saja tidak cukup. Tanpa ilmu, ibadah harian seperti shalat, puasa, dan zakat bisa saja dilakukan dengan tata cara yang keliru dan tidak sah, sehingga ibadahnya tertolak karena tidak sesuai syariat. Contoh nyata di masyarakat adalah melakukan ritual selamatan (seperti tahlilan atau megengan) yang tidak pernah ada tuntunannya.
- Menurunnya Kesadaran Moral: Ilmu adalah benteng dari akhlak yang buruk. Kurangnya ilmu membuat seseorang rentan kehilangan etika dasar. Contohnya, menganggap sepele mengucapkan "ah" kepada orang tua. Padahal Allah Ta'ala melarang tegas hal tersebut:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."
(QS. Al-Isra' [17]: 23)
- Kesulitan Menghadapi Ujian Hidup: Agama adalah panduan. Tanpanya, seseorang akan rapuh dan kesulitan mengambil keputusan yang tepat saat diuji. Ia lupa bahwa manusia hidup di dunia ini memang sengaja diuji oleh Allah untuk mengukur tingkat ketakwaannya:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya."
(QS. Al-Kahfi [18]: 7)
2. Dampak di Tengah Masyarakat (Akibat Sosial)
Seseorang yang kosong dari ilmu agama juga akan membawa pengaruh negatif ke lingkungan sekitarnya:
- Minimnya Kontribusi Positif: Sulit untuk menjadi agen kebaikan di masyarakat jika di dalam diri sendiri tidak ada landasan ilmu yang kuat.
- Hilangnya Kepekaan Sosial: Cenderung menjadi apatis, kurang memiliki kesadaran sosial, dan tidak peduli terhadap masalah-masalah di lingkungannya.
- Krisis Toleransi: Pemahaman agama yang sempit karena kurang ilmu sering kali melahirkan sifat kaku dan hilangnya toleransi yang beradab.
Padahal, ketiga poin di atas sangat bertolak belakang dengan syariat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)."
(HR. Ath-Thabrani No. 5787, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
3. Dampak pada Hati dan Jiwa (Akibat Spiritual)
Ini adalah bahaya yang paling halus namun paling mematikan bagi seorang hamba:
- Tumpulnya Kesadaran Spiritual: Seseorang gagal memahami hakikat mengapa ia diciptakan dan untuk apa ia hidup di dunia ini. Semakin jauh seseorang dari ilmu agama, semakin keras pula hatinya dan tidak mudah terketuk.
- Renggangnya Hubungan dengan Sang Pencipta: Ketidaktahuan membuat seseorang kesulitan membangun kedekatan dengan Allah, sehingga ia tidak dapat merasakan ketenangan.
Padahal, tujuan mutlak diciptakannya manusia telah ditegaskan secara gamblang oleh Allah:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku."
(QS. Ad-Dzariyat [51]: 56)
Solusi: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Jangan biarkan diri kita terjebak dalam kebodohan yang merusak. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kita ambil mulai hari ini:
- Aktif Mencari Ilmu Agama: Gali ilmu dari sumber-sumber yang tepercaya seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah, dengan pemahaman (manhaj) yang benar ala Fahm As-Salaf.
- Rutin Menghadiri Kajian: Sempatkan waktu di tengah kesibukan untuk duduk di majelis ilmu atau menyimak kajian agama guna menyirami hati dan meningkatkan pemahaman.
- Berkumpul dengan Orang Berilmu: Lingkungan sangat menentukan. Berinteraksilah dengan para ulama, asatidz, dan teman-teman yang saleh agar kita bisa terus menyerap ilmu dan hikmah dari pengalaman mereka.
Kesimpulan
Menuntut ilmu agama adalah investasi dunia dan akhirat. Dengan ilmu, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri dari kesalahan ibadah, tetapi juga membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik, berkesadaran spiritual tinggi, dan siap menebar manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Catatan Referensi / Sumber Hadits:
- Seluruh referensi HR. Ibnu Majah No. 224, HR. Muslim No. 2699, HR. Bukhari No. 71, HR. Muslim No. 1037, HR. Abu Dawud No. 3641, dan HR. Tirmidzi No. 2682 di dalam artikel ini diambil dan merujuk pada standar penomoran database web hadits.id.
- Referensi HR. Ath-Thabrani No. 5787 (dalam Al-Mu'jam Al-Awsath) diambil dari penjelasan pada web Rumaysho.com pada artikel berjudul "Khutbah Jumat: Tidak Hanya Memikirkan Amalan untuk Diri Sendiri" dan web Muslim.or.id pada artikel berjudul "Ibadah, Semakin Bermanfaat Semakin Berpahala".
Wallahu a'lam bish-shawab.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]
0 Response to "PENTIIIING ! ! ! NIH AKIBAT TIDAK MENUNTUT ILMU AGAMA"
Posting Komentar