HATI-HATI! Jika Guru Anda Meminta Ini, Jangan Dilakukan !
Hukum Bersalaman Cium Tangan dan Membungkuk
Secara umum, kalau cium tangan itu boleh. Karena hal
itu juga pernah dilakukan dikalangan sahabat kepada Rasulullah sebagaimana disebutkan oleh para ulama seperti Imam Nawawi dan yang
lainnya. Di antara hujahnya adalah perbuatan sebagian sahabat kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka cium tangan kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam dan disahihkan Syaikh Albani
rahimahullah. Imam Nawawi juga dalam kitab Riyadus Shalihin
menyebutkan tentang bab ini, cium tangan kepada orang tua, demikian pula para
ulama.
Meskipun hal
tersebut diperbolehkan namun tidak untuk dijadikan sebagai kebiasaan, karena
pada saat itu para sahabat juga melakukan hanya sekali-kali (tidak rutin). Makanya, jika
akan melakukan cium tangan kepada seorang ulama misalnya, sebaiknya tidak
dirutinkan, tidak dijadikan sebagai kebiasaan.
Adapun cium tangan jika dilakukan kepada orang tua, bila memang di sebuah daerah urf (adat) tersebut masyarakatnya beranggapan bahwa kalau kita tidak mencium tangan orang tua dianggap kurang ajar atau tidak berbakti, maka yang seperti ini boleh-boleh saja.
Karena ada sebuah kaidah usul fikih mengatakan,[ اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ ] Adat istiadat itu boleh dijadikan hukum selama itu tidak bertabrakan dengan syariat.
Sama halnya dengan bersalaman cium tangan kepada orang tua atau suami dan istri. Bersalaman cium tangan kepada ulama atau guru sebagai bentuk untuk mencintai, menghargai, atau menghormati juga boleh sebagaimana yang disebutkan dalam hadis bahwa sebagian sahabat ada yang mencium tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan para ulama menyebutkan bahwa tidak apa-apa hukumnya cium tangan kepada ulama. Demikian pula dibolehkan mencium kepalanya. Demikian pula mencium kakinya. Namun mencium kaki itu ada beberapa hadis.
Di antaranya tentang orang Yahudi yang berkata, "Kalau kita bertemu Muhammad, kita akan cium tangan dan kakinya." Dan mereka pun kemudian mencium tangan Rasulullah dan kakinya, dan Rasulullah tidak mengingkarinya. Demikian pula beberapa riwayat dari sebagian sahabat yang dihasankan Syaikh Albani rahimahullah.
Namun dengan
catatan seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
bahwa tidak boleh dilakukan kepada orang yang ingin dilakukan seperti
itu kepada dirinya.
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab beliau, Syarah Riyadus Shalihin, sebagian orang (yang dianggap ulama), ketika kita bertemu dengan dia, kita mengucapkan salam, dia langsung mengulurkan tangannya. Seakan-akan dia berkata, "Cium tanganku." Kata Syaikh Utsaimin, فَهَذَا يُسْتَنْكَرُ (Maka ini yang diingkari). Tidak boleh. Demikian pula dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, adapun memulainya (meminta) ingin dicium, maka seperti ini tidak boleh. Ini perkara yang dilarang tanpa khilaf para ulama.
Adapun kita
melakukan itu kepada seorang alim sesekali, seperti yang dilakukan oleh
sebagian sahabat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, demikian pula
sebagian salaf melakukannya. Pernah Imam Muslim berkata kepada Imam
Bukhari, دَعْنِي أُقَبِّلُ رِجْلَيْكَ يَا أُسْتَاذَ الْأُسْتَاذِينَ (Biarkan
aku mencium dua kakimu wahai ustaznya para ustaz).
Kata para ulama,
ini untuk orang yang tidak haris (ambisius), tidak semangat, tidak ingin
dihormati, tidak ingin diperlakukan seperti itu. Adapun kalau
kita tahu memang orangnya senang digituin, maunya digituin, jangan. Tidak boleh.
Banyaknya fenomena
yang terjadi seperti untuk bersalaman dengan guru/ ustadz/ kiai maka seorang
santri harus menunduk/ berjalan hingga posisinya sampai mau menunduk, maka hal
ini tida dibenarkan karena itu merupakan sesuatu hal yang baru dan tidak pernah
dilakukan oleh para sahabat kepada Rasulullah. Tidak pernah ada
sepotong riwayat pun para sahabat sampai demikian kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam. Padahal beliau manusia yang paling berhak untuk
diperlakukan demikian dan tidak ada manusia paling mulia kecuali Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam.
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Anas bin
Malik bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِذَا لَقِيَ أَحَدُنَا أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟
Apabila salah
seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau temannya, bolehkah ia
membungkukkan badannya kepada dia?
Kata Rasulullah,
لا
Tidak
Al Imam
an-Nawawi mengatakan bahwa الْإِنْحِنَاء (membungkukkan
badan) itu tidak boleh kepada siapapun dan dalam keadaan apapun. Beliau
mengatakan (di kitab شَرْحُ الْمُهَذَّبِ) makruh
hukumnya untuk membungkukkan badan kita kepada siapapun. Bahkan Ibnu
Allan dalam kitab Dalilul Falihin mengatakan itu termasuk مِنَ الْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ (bid'ah yang
haram). Karena الْإِنْحِنَاء membungkukkan badan seperti ruku, itu hanya
untuk Allah. Demikian pula apalagi sujud. Makanya hal
seperti ini justru dilarang oleh syariat Islam.
Adapun kalau
misalnya dia berdiri di atas lututnya saja, sebatas berdiri di atas lutut,
kayak sungkem gitu. Pernah terjadi, waktu itu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, سَلُونِي (Bertanyalah kepadaku). [Ada yang
bertanya], "Wahai Rasulullah, di mana ayahku?" Kata Rasulullah,
"Ayahmu di neraka." Ada lagi yang bertanya, "Siapa
ayahku?" "Ayahmu Fulan bin Fulan." Terlihat
Rasulullah seperti marah karena pertanyaan-pertanyaan para sahabat yang tidak
perlu ditanyakan.
Melihat itu,
Umar (bin Khattab) langsung جَاءَ عَلَى رُكْبَتَيْهِ (Beliau
berdiri di atas lututnya) dan berkata,
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Sampai akhirnya
kemarahan Rasul pun reda. Makanya yang seperti ini, berdiri di atas
lutut (seperti sungkem), itu tidak masalah.
Jadi, memang
memuliakan ulama itu adalah bagian agama yang wajib kita yakini. Menghormati dan
memuliakan ulama, itu semua ulama sepakat (ijma'), wajib. Tapi tidak boleh
ghuluw, tidak boleh berlebih-lebihan.
Kalau Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam saja, kata Anas bin Malik, adalah orang yang
paling dicintai oleh para sahabat. Tapi ketika Rasulullah datang, tidak ada
seorang pun dari kami yang berani berdiri untuk menghormati Rasulullah. Kenapa? Karena mereka
tahu Rasulullah tidak suka disambut dengan cara berdiri oleh
orang-orang.
Bahkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
(Siapa yang merasa suka orang-orang berdiri
menghormati dirinya, maka hendaklah ia menempatkan tempat duduknya dalam api
neraka).
Na'udzubillah. Iya, ternyata
ada ancamannya. Dan jangan menganggap orang lain قِلَّةُ الْأَدَبِ (kurang ajar) karena
tidak mau berdiri menyambut kedatangan seseorang (kiai/ulama/ustadz) dan yang
lain dikhawatirkan bisa masuk dalam ancaman seperti ini. namun kata para
ulama, kita boleh berdiri untuk menghormati tamu yang datang ke rumah kita, lalu kita
menyambutnya أَهْلاً itu
tidak masalah.
Tapi yang
dimaksud di sini ya, sengaja si ustaz tersebut menyuruh murid-muridnya supaya
berdiri agar menghormati dirinya, atau mengingkari muridnya yang tidak mau
berdiri. Ini tidak dibenarkan.
Nah, bagaimana
adabnya ketika kita bertemu dengan guru, ya kita berjabat
tangan seperti biasa. Kalau sekali-kali mau cium tangan, ya silakan
saja. Tapi jangan sampai membungkuk, karena membungkuk itu dilarang oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kalau kita mau
cium jidatnya (kening) juga silakan, karena itu juga para ulama menyatakan
diperbolehkan. Tapi itu pun juga tidak dirutinkan oleh para
sahabat.
Seperti Abu
Hurairah berkata, "Aku pernah bertemu dengan Rasulullah di sebuah jalan
Madinah. Lalu kemudian Rasulullah memegang tanganku dan
berjalan denganku. Lalu kemudian aku pergi diam-diam." Lalu Abu
Hurairah mandi di rumahnya, kemudian balik lagi ke Rasulullah. Kata Rasulullah,
"Kamu tadi ke mana, Abu Hurairah?" "Tadi aku
junub, ya Rasulullah, belum mandi." Kata Rasulullah,
سُبْحَانَ اللَّهِ، إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ (Sesungguhnya muslim itu tidak najis).
Jadi sekali
lagi, bukan kebiasaan para sahabat, mereka cium tangan ke Rasulullah, namun hal
itu diperbolehkan, sekali-kali saja. Karena bersalaman mencium
tangan atau kening itu diperbolehkan, maka penting bagi
seorang guru/ kiai/ ustadz hendaknya memperlihatkan ketawaduan. Jangan sampai
dia merasa suka untuk diperlakukan seperti itu.
Pelajaran yang
dapat diambil ilmunya tentang ketawaduan seorang guru/ ustaz/ kiai tercermin
dalam kisah berikut :
seorang ulama
Mesir [ tidak disebutksn namanya ] ketika muridnya mau cium tangan, beliau
menolak. Ketika muridnya mau cium kakinya, kata beliau,
"Tangan saja saya tidak mau, apalagi kaki." Terus kata
muridnya, "Bukankah seperti ini kami diperintahkan menghormati
ulama?" [Beliau menjawab] "Aku bukan ulama."
Syaikh Albani
beliau berkata, "Saya cuma penuntut ilmu." Subhanallah. Siapa aku? Begitu harusnya
seorang guru mengajarkan muridnya untuk tawadhu. Bukan kemudian
malah seakan-akan si guru merasa senang muridnya seperti itu kepada dia.
Berlakulah kepada
siapapun tanpa harus ghuluw (berlebih-lebihan) kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulannya :
1.
Cium tangan kepada orang tua, guru, ustadz, kiai
itu boleh tetapi jangan menjadi kebiasaan/ keharusan yang dirutinkan;
2. Tidak diperbolehkan menyodorkan tangan (untuk
dicium orang lain/ jamaah) karena ini perkara yang dilarang tanpa khilaf para ulama;
3. Membungkuk/ merunduk (seperti posisi ruku’
saat sholat) itu dilarang karena ruku’ sejatinya hanya kepada Allah, dan
apaliagi sujud itu juga hanya untuk Allah dan hal itu merupakan larangan dalam
Syariat;
4. Berdiri ketika orang penting datang karena
memiliki jabatan seperti kepala negara/ raja/ ustadz sekalipun merupakan
perbuatan yang mendapatkan ancaman neraka;
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Materi ini adalah rangkuman atas materi yang disampaikan
oleh Ustadz Badrusalam dalam Channel Yotube Safdah TV.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

0 Response to "HATI-HATI! Jika Guru Anda Meminta Ini, Jangan Dilakukan !"
Posting Komentar