Dengan Apa Kita Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ibadah di dalamnya dilipatgandakan pahalanya, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai waktu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan guna meraih keridhaan-Nya. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib memperbagus penyambutannya agar memperoleh kebaikan sebesar-besarnya.
Berikut amalan-amalan yang harus dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan:
1. Bertaubat kepada Allah dengan Taubat Nasuha
Wajib bagi kita menyambut bulan mulia ini dengan taubat nasuha atas setiap dosa.
Jika dosa tersebut hanya berkaitan antara hamba dengan Allah (tanpa menyangkut hak sesama hamba), maka terdapat tiga syarat:
- Meninggalkan maksiat tersebut dan tidak mengulanginya lagi.
- Menyesali perbuatan dosa itu dengan sungguh-sungguh.
- Berazam kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu di masa depan.
Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama hamba, maka syarat taubatnya ada empat (tiga syarat di atas ditambah satu syarat lagi), yaitu melepaskan diri dari tuntutan atau hak orang lain yang pernah dizalimi:
- Jika berupa harta atau semisalnya, wajib dikembalikan kepadanya.
- Jika berupa tuduhan zina (qadzaf) atau sejenisnya, maka ia harus menyerahkan dirinya untuk qishash atau meminta maaf kepada yang dituduh.
- Jika berupa ghibah (menggunjing), maka wajib meminta kehalalan darinya dengan memohon maaf.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
"Barangsiapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya berkenaan dengan kehormatannya atau yang lainnya, hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini sebelum tiba saat tidak ada lagi dinar maupun dirham..." (HR. Al-Bukhari no. 2269)
Taubat tidak terbatas pada orang yang bermaksiat saja, melainkan wajib bagi setiap muslim. Allah Ta'ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang semurni-murninya)." (QS. At-Tahrim: 8)
Dan Allah berfirman:
وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Setiap kali iman bertambah, seseorang akan semakin sering bertaubat dan kembali kepada Allah. Karena itu, orang-orang yang paling banyak bertaubat adalah orang-orang saleh dan bertakwa.
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari."
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
"Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari."
Imam Muslim meriwayatkan dari Al-Agharr Al-Muzani Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Sesungguhnya hatiku pernah tertutup dan aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali."
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang (berulang kali) bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." [QS. Al-Baqarah: 222].
Renungan untuk Kita:
Wahai engkau yang meremehkan ketaatan kepada Rabbmu!
Wahai engkau yang meremehkan shalat!
Wahai engkau yang meremehkan shalat Subuh!
Wahai engkau yang terang-terangan berbuat dosa!
Wahai engkau yang tidak menundukkan pandangan dari yang haram!
Wahai engkau yang banyak berbuat dosa!
Kembalilah kepada Rabbmu! Bertaubatlah, karena Ramadhan telah datang—bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari barat."
2. Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Kita telah diperingatkan secara tegas terhadap kedurhakaan kepada orang tua, karena durhaka kepada mereka termasuk sebab tidak diterimanya ibadah.
Ibnu Abi Asim meriwayatkan dengan sanad shahih dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا: عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ
"Ada tiga golongan yang tidak diterima Allah amal saleh maupun ibadah wajibnya: orang yang durhaka kepada orang tua, orang yang mengungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir".
Allah tidak menerima taubat, ibadah sunnah, ibadah wajib, maupun fidyah dari golongan tersebut. Termasuk kedurhakaan adalah menyakiti keduanya (baik fisik maupun hati) atau menentang perintah mereka selama bukan dalam perkara maksiat.
3. Menyudahi Permusuhan
Pertengkaran dan permusuhan menjadi salah satu penyebab utama ditutupnya pintu ampunan bagi kedua belah pihak yang berselisih.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تعرض الأعمال في كل يوم خميس واثنين فيغفر الله عز وجل في ذلك اليوم لكل امرئ لا يشرك بالله شيئا إلا امرأ كانت بينه وبين أخيه شحناء فيقال اركوا هذين حتى يصطلحا اركوا هذين حتى يصطلحا
"Seluruh amal diperlihatkan pada hari Kamis dan Senin. Maka pada hari itu, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan ampunan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kecuali kepada seseorang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan, ‘Tahanlah keduanya hingga mereka berdamai. Tahanlah keduanya hingga mereka berdamai" (HR. Muslim)
Ampunan baru dikabulkan setelah kedua pihak yang bermusuhan berdamai dan saling mencintai. Bahkan, mendiamkan saudara sesama muslim lebih dari 3 hari diancam dengan neraka.
Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad sahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يَحِلُّ لمسلم أن يَهْجُرَ أخَاه فوق ثَلَاث، فمن هَجَر فوق ثَلَاث فمات دخل النَّار
“Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang menjauhi lebih dari tiga hari lalu meninggal dunia, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Abu Dawud).
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضَ هَذَا, وَيُعْرِضَ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
"Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu juga berpaling. Yang paling utama di antara keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Muslim).
4. Menuntut Ilmu (Hukum Seputar Puasa)
Ibadah puasa tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat utama, maka wajib bagi kita mempelajarinya:
Syarat Pertama: Ikhlas karena Allah
Ikhlas berarti mengharapkan wajah Allah, pahala-Nya, dan keridhaan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Allah juga berfirman:
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 3).
Dan firman-Nya:
قُلِ ٱللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُۥ دِينِى
“Katakanlah: ‘Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.’” (QS. Az-Zumar: 14).
Syarat Kedua: Mengikuti Tuntunan Rasulullah (Ittiba')
Ibadah harus
mengikuti sunnah Rasulullah tanpa ditambah atau dikurangi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7).
Allah juga berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65).
Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Amalan tersebut tertolak dan tidak diterima. Fudhail bin Iyadh ditanya tentang firman Allah:
(لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا)
beliau menjawab: اخلصه واصوابه (ia adalah amal yang ikhlas dan benar).”
Mereka bertanya: “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan اخلصه واصوابه?”
Beliau menjawab: “Sesungguhnya amal yang ikhlas tetapi tidak benar tidak akan diterima. Amal yang benar tetapi tidak ikhlas pun tidak diterima. Maka, amal harus ikhlas (karena Allah) dan benar (sesuai sunnah).”
Kesimpulan:
Ahli ilmu telah bersepakat bahwa seseorang tidak boleh beramal kecuali dengan ilmu. Siapa yang hendak berpuasa, wajib mempelajari hukum-hukum puasa. Seluruh ibadah harus didasari ilmu, agar pelakunya mendapat dua pahala: pahala belajar dan pahala beramal.
Disusun oleh: Ustadz Kusdiawan
(Diambil dari kitab Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Ahkam Shiyam wa Adab al-‘Īd karya Dr. Khālid ibn Maḥmūd al-Juhānī ḥafiẓahullāh)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Note: Izin menyampaikan, secara substansi (isi materi) tidak ada yang diubah karena naskah asli sudah sangat lengkap dan syar'i.
Perubahan yang saya lakukan hanya sebatas penyesuaian teknis agar tulisan ini lebih nyaman dan tidak melelahkan mata saat dibaca via HP, meliputi:
- Konsistensi Ejaan: Menyeragamkan penulisan (misal: Ramadhan, Shalat, Ta'ala).
- Layout & Formatting: Memberikan cetak tebal (bold) pada poin inti dan memisahkan terjemahan dalil agar lebih rapi.
- Visualisasi: Mengatur bagian renungan agar lebih menonjol dan menyentuh hati.
Insya Allah makna dan isinya tetap utuh 100% sesuai tulisan asli.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]
0 Response to "Dengan Apa Kita Menyambut Bulan Ramadhan?"
Posting Komentar