Gambar Pagi Gambar Petang

Menjaga Hati di Tengah Keterbatasan Teknologi: Catatan Kecil Penulis Dakwah

Seringkali, pembaca hanya melihat hasil akhirnya: sebuah artikel dakwah yang tayang rapi di blog. Mungkin ada yang membayangkan penulisnya duduk di ruang kerja nyaman, ditemani kopi mahal, dan mengetik di laptop canggih berlogo buah apel.

Padahal, realitanya jauh dari itu.

Tulisan ini saya buat sebagai pengingat bagi diri sendiri, sekaligus "bocoran" kecil bagi sahabat sekalian. Bahwa di balik layar monitor ini, ada keterbatasan ekonomi yang nyata, ada perangkat tua yang megap-megap, dan ada peran besar seorang istri yang tak terlihat.

1. Zuhud Teknologi : Memaksimalkan Apa yang Ada

Jujur harus saya akui, penghasilan saya yang pas-pasan belum mampu menjangkau kemewahan teknologi. Laptop Lenovo ThinkPad tua yang saya pakai menulis ini pun, sejatinya bukanlah hasil keringat saya sendiri.

Ini adalah hadiah dari istri tercinta. Dialah yang menyisihkan uang, membelikan "mesin tua" ini agar suaminya bisa tetap berdakwah lewat tulisan. Bahkan, smartphone yang saya genggam pun adalah pemberiannya.

Kondisi laptop ini jauh dari kata prima. Sistem operasinya lawas, tak lagi sanggup menerima update terbaru. Jika dipaksa menginstal aplikasi berat, mesinnya akan "menjerit" kepanasan.

Namun, saya memilih jalan "Zuhud Teknologi". Prinsipnya: memaksimalkan apa yang ada, mensyukuri apa yang tersedia.

Secara teknis, saya melakukan efisiensi ketat:

Keamanan Senyap : Saya menggunakan Bitdefender Free. Ia bekerja dalam diam, melindungi tanpa membebani kinerja prosesor tua ini.
Fokus Privasi : Saya beralih ke Firefox dengan pengaturan ketat untuk menghapus jejak otomatis. Tujuannya bukan sekadar privasi, tapi memblokir iklan-iklan yang sering kali melalaikan pandangan dan hati.

Laptop ini mungkin lambat bagi dunia, tapi bagi saya, ia adalah amanah cinta dari istri yang harus saya pakai untuk menghantarkan kebaikan.

2. Ikhtiar Mencari Jendela Dunia yang Halal

Pergulatan batin yang paling berat sebenarnya bukan pada alat yang lambat, internet, maupun keyboard, melainkan pada kehati-hatian (wara') menggunakan fasilitas yang bukan hak milik pribadi.


Di saat kuota menipis (yang itupun seringkali dibelikan istri), setan sering membisikkan jalan pintas: "Pakai saja Wi-Fi kantor untuk download film," atau "Ambil saja kertas kantor itu buat catatan di rumah, toh cuma selembar."


Namun, saya teringat nasihat tegas dari Ustadz Khalid Basalamah yang pernah saya dengar.

 

Beliau menyampaikan bahwa haram hukumnya mengambil aset kantor atau perusahaan untuk kepentingan pribadi tanpa izin, meskipun itu hanya selembar kertas.


Jika saya atau antum berprofesi sebagai karyawan, dan butuh kertas untuk urusan pribadi, maka wajib hukumnya meminta ridho pimpinan. Jika tidak, itu adalah ghulul (korupsi) kecil yang akan dihisab.


Hati saya makin bergetar ketika mendengarkan kisah para ulama salaf terdahulu. 

 

Dikisahkan ada seorang ulama yang selalu membawa dua pena di sakunya.

  1. Satu pena milik negara/kantor.
  2. Satu pena milik pribadi.

Ketika beliau (ulama tersebut) menulis urusan pekerjaan, beliau memakai pena negara. Namun, ketika ada tamu datang untuk urusan pribadi atau beliau ingin menulis surat keluarga, beliau meletakkan pena negara itu dan mengambil pena pribadinya. Beliau takut, tinta yang tergores untuk urusan pribadi itu akan menjadi dosa di akhirat nanti. 

Dikisahkan tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Suatu malam, beliau sedang bekerja di ruangannya dengan diterangi lampu minyak milik negara. Tiba-tiba datang seorang tamu.

Sebelum memulai pembicaraan, Umar bin Abdul Aziz bertanya tegas: "Engkau datang ke sini untuk urusan negara atau urusan pribadi (keluarga)?" Sang tamu menjawab: "Urusan pribadi, wahai Amirul Mukminin."

Seketika itu juga, Umar bin Abdul Aziz meniup lampu minyak itu hingga padam. Ruangan menjadi gelap gulita. Beliau kemudian merogoh sakunya dan menyalakan lilin kecil miliknya sendiri.

Tamu itu terheran-heran, "ya Amirul Mukmini, Kenapa engkau mematikan lampunya?" Umar bin Abdul Aziz pun menjawab dengan tenang namun menohok: "Lampu tadi minyaknya dibeli pakai uang negara. Aku tidak berani memakainya untuk membicarakan urusan pribadiku denganmu. Itu haram bagiku."

Masyaallah...

 

Hanya karena tinta pena dan setetes minyak lampu, mereka takut luar biasa.

 

Lalu, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan Wi-Fi dan Aset Kantor yang harganya jauh lebih mahal?

3. Ganjalan Hati: Antara Barang "Keras" dan Syubhat

Pernah suatu ketika, mata saya tertuju pada tumpukan barang bekas di gudang kantor. Di sana, terselip sebuah keyboard tua yang kusam dan berdebu.

Menurut rekan kerja, keyboard itu "dipensiunkan" karena tuts-nya (tombolnya) sudah terasa keras. Bagi orang lain, mengetik di atasnya adalah siksaan. Tapi bagi saya yang sedang membutuhkan alat ketik tambahan, barang ini adalah harapan.

Saya bersihkan debu-debunya. Saat dicoba, memang rasanya keras dan kaku. Tapi ia berfungsi. Huruf demi huruf muncul di layar. Bagi saya, ini sudah cukup.

Secara logika, barang ini seolah "sampah". Siapa yang mau pakai barang keras begini? Seolah sah saja jika saya membawanya pulang. Namun, anehnya, hati saya tidak tenang. Sholat terasa hampa, doa terasa terhalang.

Ternyata, ganjalan itu bernama Syubhat.

Saya teringat hadits Rasulullah :

Dari An-Nu'man bin Bashir: Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda, 'Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang meragukan dan kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa yang menjaga diri dari hal-hal yang meragukan, ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam hal-hal yang meragukan, ia bagaikan seorang pengembala yang menggembalakan (hewan-hewan) di dekat Hima (padang rumput pribadi) milik orang lain dan setiap saat ia berpotensi untuk terjatuh ke dalamnya. (Wahai manusia!) Ketahuilah! Setiap raja memiliki Hima dan Hima اَللّٰه di bumi ini adalah larangan-larangan-Nya. Ketahuilah! Dalam tubuh ada sepotong daging, jika ia baik (diperbaiki) maka seluruh tubuh menjadi baik, tetapi jika ia rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak dan itu adalah hati.' (HR. Bukhari no. 52).

Status barang itu samar. Meski "keras" dan tak diminati orang, ia tetap aset kantor. Apakah boleh dibawa pulang? Ketidakjelasan inilah yang mengeruhkan hati.

Solusinya bukan uang, melainkan Lisan. Saya beranikan diri menemui pimpinan kantor.

"Pak, di gudang ada keyboard usang yang tuts-nya keras. Bolehkan saya bawa pulang untuk dipakai mengetik?"

Jawaban pimpinan melegakan : "Silakan dipakai jika memang butuh, Mas. Tapi statusnya pinjam pakai ya. Tidak untuk dimiliki pribadi, karena ini masih tercatat aset kantor."

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ . Jawaban itu seperti air sejuk. Meski barang itu bukan milik saya, hati ini lega luar biasa. Statusnya kini jelas: bukan barang curian, bukan syubhat, melainkan barang pinjaman yang halal (akad 'Ariyah).

Meskipun tuts-nya keras, kini mengetik rasanya menjadi ringan dan penuh berkah.

Kesimpulan

Sahabat sekalian, barangkali kalian melihat blog ini dan mengira penulisnya hidup berkecukupan. Nyatanya, banyak orang di luar sana—termasuk saya—yang kelihatannya "lebih", padahal sedang berjuang "pas-pasan".

Namun, keterbatasan harta bukanlah alasan untuk menerobos batasan syariat. Laptop boleh tua, internet boleh numpang, keyboard boleh keras, tapi hati harus tetap tenang.

Semoga اَللّٰه memberkahi istri saya yang menjadi tulang punggung teknologi dakwah ini, dan memberkahi kita semua yang tetap memilih jalan halal di tengah himpitan kebutuhan.

والله أعلمُ بالصواب


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjaga Hati di Tengah Keterbatasan Teknologi: Catatan Kecil Penulis Dakwah"

Posting Komentar