Gambar Pagi Gambar Petang

19 Adab Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah

Adab-Adab Puasa 

Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan beberapa adab berikut ini:

1. Berdoa Ketika Melihat Hilal

Ad-Darimi meriwayatkan secara shahih dengan dikuatkan riwayat lainnya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ melihat hilal beliau berdoa:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

"Allah Maha Besar. Ya Allah, terbitkanlah al-hilal kepada kami, dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman, serta petunjuk bagi amal yang disukai Tuhan kami dan yang diridhai Tuhan kami, Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai hilal) adalah Allah."

Yang dimaksud hilal di sini maksudnya hilal di malam pertama, kedua, dan ketiga. Disebut hilal karena pada umumnya, manusia akan meninggikan suara mereka untuk mengabarkan hal tersebut. Hilal dalam Al-Munawir juga diartikan "berteriak ketika melihatnya."

Di samping itu, dalam dalil yang lain juga dijelaskan sebuah prinsip penting bahwa umat Islam harus taat kepada pemerintah (ulil amri), termasuk dalam pelaksanaan atau menentukan jatuhnya tanggal 1 Ramadhan maupun 1 Syawal. Ketaatan kepada keputusan pemerintah dalam hal ini sangat ditekankan agar kaum muslimin tetap bersatu dan beribadah secara serentak bersama mayoritas masyarakat, sebagaimana hadits berikut ini:

a. Hadits Khusus Penentuan Puasa & Hari Raya Bersama Pemerintah

Para ulama menggunakan hadits ini sebagai dalil utama bahwa memulai puasa dan hari raya tidak boleh dilakukan sendiri-sendiri atau per kelompok, melainkan mengikuti ketetapan pemerintah:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Puasa adalah pada hari kalian berpuasa, berbuka adalah pada hari kalian berbuka, dan kurban adalah pada hari kalian berkurban." (HR. Tirmidzi No. 697, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Catatan: Imam Tirmidzi dalam kitab sunannya menyertakan penjelasan ulama bahwa makna hadits ini adalah berpuasa dan berhari raya itu hendaknya dilakukan bersama Al-Jama'ah (mayoritas umat) dan pemerintah.

b. Hadits Umum Tentang Ketaatan pada Pemimpin

Sebagai pelengkap tentang kewajiban taat kepada pemerintah, berikut adalah hadits yang mendasarinya:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي...

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "...Siapa yang taat kepadaku, maka dia taat kepada Allah, dan siapa yang durhaka kepadaku, maka dia durhaka kepada Allah. Siapa yang taat kepada pemimpin, maka dia taat kepadaku, dan siapa yang durhaka kepada pemimpin, maka dia durhaka kepadaku..." (HR. Bukhari No. 2957)

2. Ikhlas dalam Puasa

Dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab (mengharapkan pahala), maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu."

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman: yaitu meyakini kebenaran kewajiban puasa. Dan ihtisab: yaitu menginginkan pahala dari Allah Ta’ala semata, tidak bermaksud dilihat manusia (riya') atau selain itu dari hal-hal yang bertentangan dengan ikhlas.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh para asatidz Ahlus Sunnah yang lain, jika seseorang berpuasa bukan karena Allah, maka yang diperoleh hanyalah rasa lapar dan dahaga; tidak ada pahalanya sama sekali. Namun sebaliknya, jika ia berpuasa murni karena Allah, maka pahala yang akan diterima menjadi sangat istimewa. Besaran pahala puasa tersebut hanya Allah yang tahu.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Setiap amal anak Adam adalah miliknya (untuknya), kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari No. 1904 dan Muslim No. 1151)

Dalam hadits yang lain juga dijelaskan:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ. وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar, dan ada orang yang shalat tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah No. 1690, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

3. Menetapkan Niat dalam Puasa Fardhu

Telah diriwayatkan oleh An-Nasai dengan sanad shahih dari Hafshah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ قَبْلَ الْفَجْرِ

"Tidak ada puasa bagi orang yang tidak berniat sebelum fajar."

Dan juga diriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dari perkataannya: "Dan tidak diketahui bagi keduanya (yaitu Hafshah dan Ibnu Umar) yang menyelisihi dari para sahabat."

Maka dalam perkataan Hafshah: Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan (yaitu niat sebelum fajar). Dan perbuatan dua orang sahabat (Hafshah dan Ibnu Umar) ini disebut "ijma’ sukuti" (kesepakatan diam). Ini menunjukkan bahwa tidak sah puasa Ramadhan bagi orang yang tidak berniat sebelum fajar. Berbeda dengan puasa sunnah, maka boleh berniat di siang hari sesuai rincian dalam kitab-kitab fiqih.

Terkait dengan niat puasa Ramadhan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, hafizhahullah, niat puasa cukup dihadirkan di dalam hati. Seseorang bisa berniat satu kali di awal bulan (sejak malam pertama Ramadhan) untuk berpuasa selama sebulan penuh, dan bisa juga niat tersebut dilakukan atau diperbarui setiap malam hari saat akan makan sahur.

Adapun terkait lafaz niat, tidak ada tuntunan dari syariat yang mengharuskan kita untuk melafalkannya dengan ucapan tertentu. Yang terpenting dan menjadi penentu sahnya amal adalah, di dalam hati seseorang sudah tertanam keinginan dan niat yang kuat bahwa ia akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana hadits berikut ini:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Dari Umar bin Al-Khattab: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan..." (HR. Bukhari No. 1)

4. Banyak Bersedekah di Bulan Ramadhan

Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

"Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Beliau bertemu dengannya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengaji Al-Qur’an. Maka Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang bertiup."

Selain bulan Ramadhan, terdapat pula bulan-bulan haram yang telah ditetapkan oleh Allah untuk bersedekah maupun berbuat baik, yaitu bulan Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...” (QS. At-Taubah: 36)

5. Jika Dicaci Maki Katakan: "Saya Sedang Berpuasa"

Dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ta’ala berfirman: Semua amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa, maka puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasannya. Dan puasa itu adalah perisai dan jika hari puasa salah seorang di antara kalian maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah: Saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang akan membuatnya gembira: Ketika ia berbuka ia gembira dan ketika ia bertemu dengan Rabbnya ia gembira dengan puasanya.”

6. Menyegerakan Berbuka

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Orang-orang akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."

Yang dimaksud dalam kebaikan adalah tegaknya agama. Dan selama menyegerakan berbuka bermakna selama mereka tetap berpegang pada Sunnah ini.

7. Berbuka dengan Kurma Sebelum Shalat Maghrib

Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Rasulullah ﷺ biasa berbuka dengan kurma muda (ruthab) sebelum shalat, jika tidak ada kurma muda, maka dengan kurma matang (tamr), jika tidak ada, maka dengan beberapa tegukan air."

8. Doa Saat Berbuka Puasa

Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad-Darimi (dan menghasankannya), dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ jika berbuka, beliau berkata:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Dzahabazh zhoma'u, wabtallatil 'uruqu, wa tsabatal ajru insya Allah."
(Hilanglah dahaga, basahlah urat-urat, dan tetaplah pahala insya Allah).

9. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu kebaikan itu berlipat sepuluh kebaikan yang serupa. Aku tidak mengatakan, ‘Alif lam mim satu huruf', tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf."

10. Berdoa Ketika Sedang Berpuasa

Imam Tirmidzi meriwayatkan (dan menghasankannya) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tiga orang yang doa mereka tidak tertolak, yaitu; seorang yang berpuasa hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan doanya orang yang didzalimi. Allah akan mengangkat doanya ke atas awan, dan membukakan baginya pintu-pintu langit..."

11. Tidak Meninggalkan Makan Sahur

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

"Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."

12. Makan Sahur dengan Kurma

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

"Sebaik-baik sahur orang beriman adalah kurma."

13. Mengakhirkan Sahur

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit, ia berkata:

"Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk shalat." Anas bertanya kepada Zaid, "Berapa jarak antara adzan dan sahur?" Ia menjawab: "Sekitar lima puluh ayat."

14. Tidak Terlalu Kenyang

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh anak Adam selain perutnya. Cukup bagi manusia beberapa suap yang bisa menegakkan punggungnya. Jika harus diisi, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya."

15. Memberi Makan Orang yang Berbuka Puasa

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa tersebut."

16. Bersemangat Shalat Tarawih

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang qiyam (shalat tarawih) pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Dalam hadis lain (Sunan Tirmidzi No. 806, diriwayatkan pula dalam Sunan Abu Daud No. 1375, Sunan An-Nasa'i No. 1587, dan Sunan Ibnu Majah No. 1327) bahwa barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, maka ia akan dicatat seolah-olah telah melaksanakan shalat semalam suntuk.

17. Bersungguh-sungguh di Sepuluh Hari Terakhir

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

"Apabila masuk sepuluh hari terakhir (dari Ramadhan), Rasulullah ﷺ mengencangkan sarungnya (menjauhi istri), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."

18. I’tikaf

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

"Rasulullah ﷺ biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan."

Berdiam diri di masjid (mengasingkan diri dari keluarga atau juga dapat mengajak keluarga—bukan anak-anak, melainkan anggota keluarga yang sudah dewasa/baligh) dilakukan untuk beribadah kepada Allah seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, serta mengikuti kajian rutin yang diselenggarakan di masjid tersebut hingga Ramadhan selesai (setelah shalat Idulfitri/hari raya). Namun, i'tikaf ini tidak hanya berlaku pada momen Ramadhan saja, melainkan juga bisa dilakukan di luar bulan Ramadhan.

19. Membayar Zakat Fitrah

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim telah diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma:

"Bahwa Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah dari Ramadhan atas manusia, satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan dari kaum Muslimin."

Khususnya bagi yang hidup di Indonesia, di mana mayoritas makanan pokoknya adalah nasi (berasal dari beras), maka zakatnya menggunakan beras, bukan gandum atau kurma. Adapun jika hidup di luar Indonesia, maka zakatnya disesuaikan dengan bahan makanan pokok yang berlaku di negeri tersebut.


Oleh: Ustadz Kusdiawan. Diringkas dari Kitab Shahiihul Aadaabil Islaamiyyati karya Syaikh Wahid bin Abdussalam bin Baliy hafidzahullah.
Ditulis ulang oleh penulis tanpa mengurangi poin-poin yang disampaikan.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "19 Adab Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah"

Posting Komentar