Gambar Pagi Gambar Petang

Sejatinya Sisa Umur Kita Tinggal Berapa ? [Renungan]

Materi ini adalah sebuah catatan khutbah Jumat yang sempat penulis dengar dan tulis. Isinya sangat menampar hati penulis yang seringkali lalai karena hiruk-pikuk dunia khususnya dunia kerja di pemerintahan. Rasanya sayang jika catatan ini hanya tersimpan notes HP, maka penulis bagikan agar menjadi renungan kita semua, khususnya yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang islam. 

Mukadimah

Hakikatnya, hidup di dunia ini hanyalah sebentar sekitar antara umur 60-70 Tahun, jika lebih dari itu maka BONUS dari Allah Azzawajal. Rasulullah ﷺ mengibaratkan kita seperti seorang pengembara yang sedang bepergian jauh, lalu berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya. Dunia bukan tempat tinggal, melainkan tempat meninggal.

Lantas, berapa lama jatah waktu kita? Dan kemana kaki ini akan melangkah setelah segalanya hancur?

1. Jatah Umur Umat Ini: Antara 60-70 Tahun

Jangan tertipu dengan angan-angan panjang. Rasulullah ﷺ telah memberikan batasan rata-rata usia umatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ ‏.‏ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ

Abu Hurairah meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan yang paling sedikit di antara mereka adalah yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550 & Ibnu Majah no. 4236, dinilai Hasan oleh Al-Albani)
Jika ada yang usianya lebih dari itu, maka itu adalah "bonus" dan hujjah (alasan) yang semakin berat timbangannya di hadapan Allah Azzawajal. Waktu yang singkat ini adalah penentu kehidupan yang abadi, ke Surga atau Neraka.

2. Pemandangan Mengerikan di Alam Kubur & Mahsyar

Perjalanan menuju keabadian dimulai saat nyawa berpisah dari raga. Bahkan sebelum kiamat besar terjadi, nasib seseorang sudah ditampakkan di alam kubur. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ‏"

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah (ﷺ) bersabda, Ketika salah seorang dari kalian meninggal, ia diperlihatkan tempatnya baik di pagi maupun sore. Jika ia termasuk penghuni surga, ia akan diperlihatkan tempatnya di dalamnya, dan jika ia dari penghuni neraka, ia akan diperlihatkan tempatnya di sana. Kemudian dikatakan kepadanya, 'Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu pada Hari Kebangkitan.' (HR. Bukhari no. 1379 & Muslim no. 2866)

Kelak, ketika Kiamat terjadi, gunung-gunung akan dihamburkan seperti bulu sebagaimana firman Allah Azzawajal dalam surah Al-Qari'ah : 5

 وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ

dan lautan akan meluap serta dipanaskan sebagaimana firman Allah dalam surah At-Takwir : 6

وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ 

Lalu kemana manusia akan lari? Tidak ada tempat berlindung kecuali kepada Allah.

Saat di Padang Mahsyar, ketakutan memuncak ketika Neraka Jahannam didatangkan dan diperlihatkan secara nyata.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ خَالِدٍ الْكَاهِلِيِّ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا ‏"

Abdullah bin Mas'ud melaporkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Neraka akan dibawa pada hari itu (Hari Kiamat) dengan tujuh puluh ribu kekang, dan tujuh puluh ribu malaikat menyeret setiap kekang."(HR. Muslim no. 2842)
Bayangkan, bahkan para Nabi dan orang-orang shalih yang Allah Azzawajal kasihi dan sayangi saja gemetar melihat pemandangan tersebut. bagaimana dengan kita yang bukan siap-siapa disisi Allah Azzawajal ?

3. Dua Golongan Manusia : Siapa yang Celaka?

Dalam situasi genting tersebut, Al-Qur'an membagi manusia menjadi dua golongan besar berdasarkan orientasi hidupnya.

Golongan Pertama: Penghuni Neraka

Siapakah mereka? Al-Qur'an menjelaskan ciri utamanya:

  1. Melampaui Batas (Thaghā) : Orang yang fasik dan tidak mau tunduk pada aturan Allah.
  2. Orang yang Lebih Mengutamakan Kehidupan Dunia : Waktunya habis untuk mengejar harta, tahta, dan kesenangan sesaat.

Allah Azzawajal berfrman dalam surah An-Nazi'at: 37-39

فَاَمَّا مَنۡ طَغٰىۙ‏

وَاٰثَرَ الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا ۙ‏

فَاِنَّ الۡجَحِيۡمَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ‏ 

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).
Mereka adalah orang yang cerdas dalam urusan dunia, namun bodoh dalam urusan akhirat.  Sebagaimana sindiran Allah Azzawajal dalam surah Ar-Rum : 7

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai

Golongan Kedua: Penghuni Surga

Siapakah mereka? Mereka adalah orang yang memiliki dua karakter utama:

  1. Takut akan Kebesaran Rabb-nya : Ia sadar selalu dipantau oleh Allah (Muraqabah), sehingga takut berbuat maksiat.
  2. Menahan Diri dari Hawa Nafsu : Ia sanggup melawan keinginan jiwanya demi ketaatan.

Allah Azzawajal berfirman  dalam surah An-Nazi'at: 40-41

 وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙ‏

فَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ‏ 

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

Orang yang takut kepada Allah Azzawajal, pasti akan rajin beribadah dan berhati-hati dalam hidup. 

Penutup : Siapakah Orang yang Cerdas?

Sebagai penutup, mari kita renungkan definisi "Cerdas" menurut Nabi ﷺ. bukanlah mereka yang bergelar tinggi atau berharta melimpah, namun melupakan kematian.

 Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ‏.‏ قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ ‏"‏ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ‏"‏ ‏.‏ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ‏.‏ وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا ‏.‏ وَيُرْوَى عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لاَ يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

Shaddad bin Aws meriwayatkan bahwa Nabi (s.a.w) bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk apa yang ada setelah mati. Dan orang yang tidak mampu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berharap kepada Allah." Ia berkata: Makna dari ucapannya: "Siapa yang menundukkan jiwanya", adalah mengatakan bahwa orang yang menghitung dirinya di dunia sebelum ia dihitung pada Hari Kiamat. Telah diriwayatkan bahwa 'Umar bin Al-Khattab berkata: "Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung, dan persiapkanlah untuk Pemeriksaan Terbesar. Hitungan pada Hari Kiamat hanya ringan bagi orang yang menghitung dirinya di dunia." Dan telah diriwayatkan bahwa Maimun bin Mihran berkata: "Seorang hamba (Allah) tidak akan menjadi Taqi hingga ia menghitung dirinya, sebagaimana ia akan mempertanggungjawabkan dari mana makanan dan pakaiannya." (HR. Tirmidzi no. 2459 & Ibnu Majah no. 4260)
Semoga kita termasuk golongan orang-orang cerdas yang menyibukkan diri mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang yang abadi.

 

Materi ini disarikan dari Khutbah Jumat yang di sampaikan oleh Ustadz Hisyam Al-Katiri حَفِظَهُ اللهُ

Masjid Al-Huda, 18 Sya'ban 1447 H/ 6 Februari 2026

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejatinya Sisa Umur Kita Tinggal Berapa ? [Renungan]"

Posting Komentar