Gambar Pagi Gambar Petang

Kisah Nyata Ghuraba: Menggenggam Bara Api dan Julukan "Penebar Virus" Sunnah

Kisah Nyata Ghuraba: Menggenggam Bara Api dan Julukan "Penebar Virus" Sunnah

Berislam sesuai Sunnah bukanlah jalan yang mudah. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh para asatidz kita, seperti Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah, Ustadz Abu Yahya Badrusalam hafizhahullah, Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah, dan asatidz lainnya; mendapatkan hidayah di atas Sunnah adalah karunia luar biasa yang nilainya melebihi dunia dan seisinya.

Rasulullah ﷺ telah memprediksi fase ini dalam sebuah hadits yang shahih:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api."

(HR. Tirmidzi No. 2260, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Beliau ﷺ juga bersabda tentang keterasingan ini:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

"Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)."

(HR. Muslim No. 145)

Realita 'Islam Musiman' di Lingkungan Kita

Keterasingan itu adalah sebuah kenyataan yang sedang saya alami saat ini. Mayoritas masyarakat di lingkungan saya memang beragama Islam, namun sayangnya, sering kali Islam yang dipraktikkan adalah Islam warisan—karena nenek moyang, tradisi, atau sekadar identitas di KTP.

Banyak yang ikut-ikutan tanpa ilmu. Untuk hal mendasar seperti taat mendirikan shalat lima waktu saja, kadang masih menjadi ibadah "musiman". Ambil contoh saat momen Ramadhan seperti sekarang. Di awal bulan, masjid dan mushala penuh sesak. Namun menginjak minggu ketiga hingga akhir, shaf perlahan maju dan menghilang. Hanya tersisa beberapa orang yang benar-benar memegang keteguhan di hati. Ironisnya, di minggu-minggu terakhir menjelang hari raya, prioritas ibadah justru sering kali kalah oleh kesibukan berbelanja.

Terbentur Tradisi dan Label 'Ninja'

Kembali pada analogi menggenggam bara api, tantangan terberat justru terasa ketika berhadapan dengan ritual ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mulai dari selamatan kematian (tahlilan) hingga megengan (tradisi menyambut Ramadhan atau hari raya).

Suatu ketika, karena saya memilih untuk tidak ikut-ikutan dalam kegiatan yang tidak ada tuntunannya tersebut, vonis sosial pun berjatuhan. Mulai dari dicap ikut ormas Muhammadiyah, dituduh Salafi, Wahabi, hingga sebutan "Ninja" yang biasanya dialamatkan kepada teman-teman muslimah yang bercadar.

Secara pribadi, ucapan-ucapan itu tidak sampai menyakiti hati. Namun jika direnungkan, hal ini justru menunjukkan betapa masih awamnya pemahaman beragama di tengah masyarakat kita. Minimnya ilmu agama membuat label-label itu begitu mudah keluar dari lisan.

Dalam urusan dunia, Islam membebaskan kita untuk berinovasi seluas-luasnya. Namun dalam urusan agama (ibadah mahdhah), sudah ada pedoman baku yang tauqifiyyah—tidak boleh ditambah, dikurangi, atau diubah-ubah. Allah ﷻ berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."

(QS. Al-Ma'idah: 3)

Islam sudah sempurna saat Rasulullah ﷺ diwafatkan. Saya merasa miris melihat suburnya inovasi dalam ibadah, namun karena saya hidup di tengah mayoritas yang berpemahaman demikian, saya memilih untuk tidak memikirkan pandangan miring mereka. Terserah mereka mau beropini apa, tugas kita hanya berpegang teguh.

Karena hal itu pula, saya mulai menjauhi kegiatan seperti tahlilan. Namun dalam kesempatan yang lain, beberapa tetangga sudah mulai memahami dan mengetahui, di saat tetangga membuat acara tahlilan, mulailah mereka tidak memberikan saya undangan. Justru itu adalah hal yang luar biasa menurut saya, karena saya tidak perlu capek-capek datang ataupun menyampaikan permohonan maaf kepada yang mengundang bahwa saya tidak bisa hadir. Sepertinya tetangga mulai paham karena beberapa kali (lebih dari 3 kali) ada yang mengundang namun saya tidak pernah hadir. Bahkan ada tetangga dekat membuat acara selamatan (tahlil) selama 7 hari, namun saya juga tidak hadir, hingga tetangga ini membuat acara tahlil hari ke 40 kematian dan akhirnya saya juga tidak diundang. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala semoga diberi kekuatan dan keistiqamahan dalam beribadah dan beragama.

Cerita Sang "Penebar Virus"

Ada sebuah kisah lucu yang terjadi di keluarga dekat saya. Sebut saja dua bersaudara ini Alex dan Hafiz, serta saya (Hamid) dan adik saya, Abdul.

Saat momen hari raya Idul Fitri, seperti tradisi pada umumnya, Hafiz berkunjung ke rumah kakaknya (Alex) bersama orang tuanya. Terjadilah obrolan panjang lebar di sana. Uniknya, Hafiz merasa sama sekali tidak nyambung dengan isi pembicaraan mereka dan memilih lebih banyak diam.

Ketika adik saya, Abdul, main ke rumah Hafiz, iseng-isenglah ia bertanya, "Apa sudah ke rumah Alex?"

Hafiz menjawab singkat, "Sudah. Tapi aku ndak nyambung men ngomong apa mereka."

Tiba-tiba, Hafiz menirukan pesan peringatan dari Alex kepadanya,

"Aku ndak ole ketularan awakmu, Dul. Kata Alex: 'Delok en iku Abdul, paling ketularan Hamid. Hamid iku wes melu Muhammadiyah ndak gelem salaman nang wong wedok, jenggotan, cingkrang!'"

Mendengar cerita itu langsung dari adik saya, saya sontak tertawa lepas dan menyeletuk, "Berarti aku iki penebar virus, ha ha ha!"

Itulah sekelumit kisah nyata yang saya alami. Dan saya yakin, banyak saudara seiman di luar sana yang mengalami ujian jauh lebih berat dari ini ketika berusaha mempertahankan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Salafus Shalih. Tetaplah bersabar, wahai Ghuraba.

Amanah Ilmiah & Catatan Penulis:
Tulisan di atas adalah refleksi pengalaman pribadi penulis dalam meniti jalan hijrah. Adapun pondasi pemahaman mengenai Manhaj Salaf didapatkan melalui faedah ilmu dan kajian dari para Asatidz (semoga Allah menjaga mereka semua). Semoga kisah ini menjadi ibrah (pelajaran) dan penguat kesabaran bagi kita yang berusaha istiqamah di tengah keterasingan.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Nyata Ghuraba: Menggenggam Bara Api dan Julukan "Penebar Virus" Sunnah"

Posting Komentar