Gambar Pagi Gambar Petang

Menyadari Kekurangan Diri dalam Beribadah: Kunci Meraih Ampunan Allah

Masalah Yang Kedua: Menyadari Kekurangan Diri dalam Beribadah dan Beramal kepada Allah Ta'ala

Orang-orang beriman selalu memadukan antara semangat berbuat kebaikan dan sikap kehati-hatian.

📝 Catatan Penulis:

Ada seorang kawan yang kebetulan rumahnya dekat dengan saya. Ia tidak seperti kebanyakan orang, khususnya dalam hal keagamaan, yang membuat saya secara pribadi merasa "iri" (dalam kebaikan) karena belum bisa beramal sepertinya. Misalnya, saat Hari Raya Idul Adha, ia selalu mengeluarkan hartanya untuk berkurban lebih dari satu ekor kambing. Sedangkan saya, saat ini hanya bisa berdoa kepada Allah Ta'ala semoga kelak diberi kemudahan sepertinya.

Hal lain yang membuat kagum, di saat teman-teman sebaya masih sibuk memikirkan kehidupan sehari-hari atau sekadar tamasya dan tadabbur alam, kawan saya yang satu ini ternyata sudah mendaftar haji dan melunasi DP-nya. Semoga Allah Ta'ala mudahkan kita semua yang belum mampu agar segera dimudahkan untuk melakukan kebaikan yang sama.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Mu'minun:

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ - وَٱلَّذِينَ هُمْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ - وَٱلَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ - وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوْا۟ وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ - أُو۟لَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَٰبِقُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut (azab) Tuhan mereka, orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut—sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itulah yang bersegera mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah yang segera memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 57-61).

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Tirmidzi, dan lainnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "…dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut" (Al-Mu'minun: 60). Beliau bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi mereka takut amalannya tidak diterima."

📝 Catatan Penulis:

Banyak manusia, termasuk penulis sendiri, yang masih sering berorientasi pada dunia. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya salah, karena Allah Ta'ala telah mentakdirkan manusia memiliki fitrah cinta kepada harta, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Ustadz Syafiq Riza Basalamah. Namun, hal ini menjadi keliru jika melimpahnya harta justru tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas dan kuantitas ibadah.

Sebaliknya, apabila harta yang banyak itu digunakan untuk sibuk berdakwah di jalan Allah Ta'ala (seperti bersedekah), maka itu justru sangat dianjurkan. Teladan terbaik adalah sahabat Rasulullah ﷺ, Abdurrahman bin Auf. Beliau diberikan keberkahan luar biasa dalam berdagang dan selalu untung. Pernah suatu ketika, beliau memborong kurma busuk yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi, dengan harapan hartanya habis demi meringankan hisabnya di akhirat kelak. Tetapi Allah Ta'ala berkehendak lain; niat baik membeli kurma rusak itu justru membuat beliau semakin kaya raya.

Menyadari kekurangan diri dan mengakui aib pada diri sendiri akan menumbuhkan dua sifat yang agung:

Pertama: Kerendahan hati di hadapan Allah dan kebutuhan mutlak kepada-Nya.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: "Pintu yang paling dekat yang dimasuki hamba kepada Allah Ta'ala adalah al-iflas (kebangkrutan total), sehingga ia tidak melihat bagi dirinya keadaan pun, kedudukan, sebab, atau sarana yang bisa dijadikan kebanggaan."

Dalam kitab Madarij as-Salikin, disebutkan: "Orang yang memiliki bashirah (ketajaman pandang) terhadap dirinya sendiri, hak-hak Allah, dan jujur dalam mencari ridha-Nya, tidak akan melihat satu kebaikan pun pada dirinya di sisi dosa-dosanya. Ia hanya bertemu Allah dalam keadaan bangkrut murni dan fakir sejati. Ketika meneliti aib-aib dirinya dan amalnya, ia sadar bahwa semuanya tidak layak diserahkan kepada Allah. 'Barang dagangan' seperti itu tidak bisa membeli keselamatan dari azab-Nya, apalagi meraih pahala agung-Nya. Jika ada amal ikhlas atau saat khusus bersama-Nya, itu murni karunia Allah—bukan dari dirinya, dan ia tidak layak menerimanya. Maka, ia selalu menyaksikan karunia Allah sekaligus aib-aibnya."

Pengetahuan ini adalah yang paling mulia bagi hamba, sehingga diabadikan dalam Sayyidul Istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: "Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku, aku hamba-Mu. Aku di atas perjanjian dan janji-Mu sekuat kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan dosaku. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau."

📝 Catatan Penulis:

Terkait Sayyidul Istighfar, dalam kesempatan kajian yang lain juga sering dijelaskan agar kita jangan sampai lupa atau terlewat membacanya, minimal 1 kali di pagi hari dan 1 kali di petang hari. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa membaca doa ini dengan penuh keyakinan di pagi hari, lalu ia wafat sebelum tiba waktu petang, maka ia termasuk penghuni surga. Begitu pula barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan, lalu ia wafat sebelum tiba waktu pagi, maka ia juga termasuk penghuni surga.

Ini adalah jaminan luar biasa bagi yang merutinkan Sayyidul Istighfar (Tuannya Istighfar). Hal ini sangat sejalan dengan praktik Rasulullah ﷺ; Beliau yang sudah dijamin surga oleh Allah Ta'ala saja, masih rutin meminta ampun (beristighfar) minimal 70 hingga 100 kali dalam sehari. Bilangan sebanyak itu akan terasa sangat ringan jika sudah kita lakukan secara terus-menerus (istiqamah), misalnya dengan membiasakannya dalam rutinitas membaca dzikir pagi dan petang.


Kedua: Bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aku dan engkau, wahai saudaraku yang sejalan, paling membutuhkan ibadah taubat bersama puasa. Sekuat apa pun usaha kita menunaikan ibadah yang dicintai Allah, kita tetap tidak akan sempurna. Hak Allah agung, kelalaian kita besar, kekurangan pasti ada, dan sikap meremehkan urusan agama sering kali terjadi.

Semakin dalam seseorang mencintai, mengagungkan, dan mengenal Allah, semakin kuat ia menyadari kekurangan dan kelalaiannya. Kesadaran inilah yang justru akan membesarkan taubatnya, hingga taubat menjadi bagian dari setiap embusan napasnya.

📝 Catatan Penulis:

Salah satu wujud implementasi taubat, selain dengan memperbanyak istighfar, adalah dengan cara berpuasa (baik puasa ramadhan (wajib) maupun sunnah). Dalam penjelasan ulama, orang yang sedang berpuasa itu posisinya lebih dekat kepada Allah Ta'ala, sehingga potensi doanya dikabulkan (diijabah) jauh lebih besar dibandingkan orang yang tidak berpuasa.

Adapun puasa sunnah yang paling afdhal setelah puasa wajib adalah Puasa Daud (sehari berpuasa, sehari berbuka). Jika merasa belum mampu, kita bisa melaksanakan puasa rutin Senin dan Kamis sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ, dan merutinkan puasa bulanan pada pertengahan bulan hijriah (Ayyamul Bidh) pada tanggal 13, 14, 15 bulan hijriyah (lebih afdhol) ataupun kapan saja selain tanggal itu.

Materi utama dalam artikel ini merupakan tulisan/faedah dari Ustadz Kusdiawan. Adapun bagian "Catatan Penulis" adalah tambahan refleksi pribadi tanpa bermaksud mengubah esensi tulisan asli beliau.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menyadari Kekurangan Diri dalam Beribadah: Kunci Meraih Ampunan Allah"

Posting Komentar